Rabu, 29 Oktober 2008

PKS Tabuh Genderang Perang


Gerah dengan klaim tersebut, PKS berupaya untuk melangkah lebih luas yakni dengan men-cover ideologinya dengan jargon-jargon yang lebih mudah diterima oleh semua kalangan.


Menghadapi pemilu 2009 Partai Keadilan Sejahtera (PKS) benar-benar mengambil cara jitu dalam menarik simpati pemilih. Salah satu cara yang diambil PKS adalah sosialisasi partai melalui iklan di televisi.


Bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional, partai pimpinan Tifatul Sembiring ini menayangkan sebuah iklan yang mengadopsi beberapa tokoh pahlawan nasional. Degan jelas dalam iklan tersebut menjadikan KH. Hasyim Asy’ari (pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah) dan Soekarno sebagai visual background-nya.


Banyak amatan bermunculan dalam menyikapi iklan politik tersebut. Salah satunya adalah PKS berupaya mencuri simpati dari kalangan NU. Diketahui, KH. Hasyim Asy’ari adalah tokoh nasional yang memiliki peran penting dalam berdirinya NU. Analisa serupa juga muncul ketika tokoh pendiri Muhammadiyah juga diadopsi dalam iklan tersebut. Kasarannya, PKS ingin merebut konstituen dari partai yang berafiliasi ke Muhammadiyah. Sebut saja Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Matahari Bangsa (PMB).


Tidak cukup sampai di situ, indikasi serupa juga muncul ketika tokoh proklamasi dijadikan alat politik partai yang dihuni orang-orang puritan ini. Apa lagi targetnya jika bukan untuk meraup penggemar dari kalangan abangan atau nasionalis. Diketahui basis masa ini adalah target di mana PDIP menggantungkan dulangan suaranya.


Sontak saja, iklan tersebut menuai protes keras dari para santri di NU. Diberitakan, aktifis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) memprotes PKS agar menghentikan iklan tersebut.


Cucu ideologis KH. Hasyim Asy’ari ini tidak terima jika tokoh pahlawan nasional ini diseret-seret ke dalam ranah politik. Lebih-lebih oleh partai yang tidak pernah bersentuhan, secara ideologis, dengan NU.


Santri, modernis dan nasionalis


Sejak berdiri hingga sekarang, PKS lebih sering dicap sebagai partai yang berbasis massa Islam puritan. Ini tampak dari jargon-jargon politiknya yang selalu kental dengan simbol-simbol Islam.


Gerah dengan klaim tersebut, PKS berupaya untuk melangkah lebih luas yakni dengan men-cover ideologinya dengan jargon-jargon yang lebih mudah diterima oleh semua kalangan.


Indikasi tersebut tampak jelas ketika iklan yang menuai reaksi dari beberapa kalangan itu muncul. PKS diindaksi berupaya menjadi partai yang lebih reformis, nasionalis dan tentunya tetap religius.


Karenanya, iklan politik tersebut setidaknya diniatkan untuk mencari warna baru bagi partai. Jika pada awal berdirinya partai ini menjuluki dirinya sebagai partai dakwah, maka dengan potensi yang ada, PKS ingin meraup sesuatu yang lebih dari sekedar partai dakwah saja.


Mereka juga ingin diposisikan sebagai partainya kaum santri, modernis dan nasionalis. Tentunya, dengan target politik yang jelas yakni memboyong ketiga gelombang massa tersebut. Inilah yang kemudian disebut dengan ekspansi politik PKS.


Terlepas dari itu semua, langkah apik telah diambil oleh PKS. dan dengan cara seperti ini PKS secara tidak langsung telah menabuh genderang perang. Lawannya tidak cuma PKB, PAN atau PMB akan tetapi perahu besar yang bernama NU, Muhammadiyah dan kaum nasionalis.



Rabu, 10 September 2008

KENAPA KITA TIDAK MELAKUKAN KRITIK?



by King Syahir

Kritik itu perlu. Asal tujuannya mulia yakni untuk membuat keadaan menjadi lebih baik. Sebaliknya, kritik itu unsuggested jika tujuannya untuk menjatuhkan seseorang, tidak membangun dan lan sebagainya yang terkait dengan tujuan-tujuan negatif.


Dalam bahasa agama, kritik diverbalkan dengan ungkapan, “katakanlah kebenaran meskipun terasa berat (pahit)”. Secara psikologis mengkritik orang tentu memiliki bebasn tersendiri. Apalagi jika sasaran kritik itu adalah orang yang berstatus superior di dibanding kita. Misalnya, pimpinan atau orang yang telah berjasa kepadakita.


Begitu pun sebaliknya, kita mudah sekali mengkritik orang jikat sasaran kita adalah orang yang sejajar dengan kita, dan atau mereka yang berada di bawah kita secara status sosialnya. Misalnya, teman atau pegawai kita.


Dalam tulisan ini akan kita kupas judul di atas. Kenapa Kita TidakMelakukan Kritik? Tentu jawabannya ada pada diri kita masing-masing dan dalam situasi dan kondisi yang berbeda-beda pula.


Pertama, kenapa kita tidak mengkritik seseorang. Biasanya, kita tidak mengkritik seseorang karena yang kita hadapi adalah seorang bos atau penguasa (lebih tepatnya orang yang memiliki kekuasaan atas diri kita).


Biasanya memang berat melakukan ini. Sebab dengan mengungkap sisi kurang positif dari seorang bos akan berakibat buruk. Biasanya, kita dicap sebagai bawahan yang ‘berani pada atasan’, sok tahu, bawel, menggurui atau klimaksnya kita diberi Surat Peringatan (SP).


Kondisi itu jika berhadapan dengan bos. Bagaimana jika kita mengkritik orang yang lebih tua di atas kita dari segi umur. Misalnya, orang tua, mertua atau guru. Dalam situasi seperti ini kita bisa dicap sebagai orang yang tidak tawadlu dan lain sebagainya.


Kedua, kita tidak melakukan kritik karena takut dengan berbagai macam konsekuensi. Hal demikian ini selalu dimiliki banyak orang. Apakah kita sebagai karyawan atau lainnya.


Ketiga, biasanya kita tidak melakukan kritik terhadap orang yang berjasa kepada kita. Kebiasaan seperti ini sangat manusiawi. Akan tetapi kita harus berupaya untuk keluar dari kebiasaan itu. Karena jika kita tidak berani menyatakan hal-hal yang baik di hadapan orang yang berjasa kepada kita, lama kelamaan kita akan menjadi budaknya.


Contoh yang paling nyata adalah orang yang telah memberi kita jabatan. Bagaimana mungkin kita mengkritiknya? Jika kita mengkritiknya, bisa-bisa jabatan kita terancam. Dan silahkan Anda cari lagi contoh yang lain.


Keempat, biasanya kita tidak menkritik orang karena yang berhadapan dengan orang yang lebih tua dari kita. Saya ambil contoh, orang tua, guru atau orang lain yang lebih tua dari kita. Penyebabnya bisa berbeda-beda. Kepada orang tua biasanya kita takut. Kepada guru atau orang yang lebih tua biasanya kita segan.


Apakah kita pernah berada dalam empat macam keadaan tersebut? Jawabnya kembali pada kita masing-masing. Dan dari kita juga akan menjawab Ya atau Tidak. Bagi yang menjawab Ya, karena kita merasa belum menjadi diri sendiri serta memandang oranglain sebagai pihak yang super dari pada kita. Sedangkan kita yang menjawab Tidak mungkin kita adalah orang yang berprinsip ‘kita semua sama’. Ada seorang teman yang dengan tegas menyatakan ‘Saya hanya takut pada Allah’. Ada di manakah kita?


Kritik Otokritik


Tidak melakukan kritik terhadap prilaku dan sikap kirang baik tentu akan berakibat pada diri sendiri. Dan melakukannya pun akan menerim konsekuensinya. Artinya mengkritik atau tidak sama-sama menuai akibatnya.


Nah, bagi kita yang berani mengkritik orang lain harus berani menerima kritik. Kritik otokritik. Mengkritik orang juga harus siap dikritik. Dan ini menjadi bekal awal bagi siapa saja yang mengambil sikap berani.


Di lain sisi, kritik otokritik memacu seseorang untuk selalu melakukan introspeksi diri. Kita dituntut untuk selalu menjadi yang lebih baik. Jangan sampai istilah ‘semut diseberanglautan kelihatan, gajah di pelupuk mata tak kelihatan’ diarahkan kepada kita.

Jumat, 22 Agustus 2008

HARUSKAH PEMUDA YANG MEMIMPIN?

By King Syahir


Semakin dekatnya Pemilu 2009, banyak partai bermunculan. Sebanyak 34 partai telah resmi terdaftar sebagai kontestan demokrasi politik lima tahunan itu. Partai lama dan baru siap mengadu nasib dan memasang strategi untuk menggait hati rakyat.


Di tengah hiruk pikuk perhelatan demokrasi itu, mencuat wacana seputar kepemimpinan nasional. Tepatnya, kepemimpinan pemuda. Beberapa tokoh muda, yang merasa pantas, menggelindingkan wacana itu.


“Saatnya pemuda memimpin”. Begitu kira-kira jargon yang diusung mereka yang hendak berperan memimpin bangsa ini. “Tokoh tua diharapkan sadar diri dan tidak mencalonkan kembali sebagai persiden”. Demikian, kira-kira, harapan para kawula muda.


Para tokoh tua, termasuk SBY dan JK, digolongkan sebagai kelompok orang tua yang sudah tidak sepantasnya maju pada Pemilu 2009 nanti. Tidak hanya faktor umur yang menjadi alasan. Akan tetaapi lebih pada aspek kesuksesan dalam memimpin bangsa.


Bukti-bukti telah diajukan. Keterpurukan bangsa Indonesia menjadi salah satu buktinya. Perekonomian tidak pernah beranjak dari lubang keterpurukan. Konflik di berbagai pojok negeri ini terus saja tumbuh serta tidak adanya tanda-tanda penanganan yang serius. Ini adalah bukti bahwa pemimpin tua negeri ini tidak memiliki ketegasan dalam memecahkan masalah.


Angka kemiskinan pun mengisi daftar keterpurukan yang menghimpit bangsa. Ini terkait dengan upaya keras dalam menumbuhkan sektor perekonomian. Dan segudang data juga diajukan para pengusung wacana kepemimpinan pemuda untuk mem-black list kepemimpinan kaum tua.


Belum lagi di wilayah kebijakan publik pemerintah berkuasa saat ini. Kebijakan-kebijakan pemerintah diyakini oleh semua kalangan, termasuk kalangan muda, sebagai kebijakan yang tidak populis. Kebijakan yang tidak memihak wong cilik (grass root).


Pada sektor ini, pemerintah telah berbuat kesalahan yang bersifat elementer. Dalam kaidah ushul fikh, disebutkan bahwa kebijakan yang dibuat penguasa (pemerintah) harus berorientasi kepada kemaslahatan rakyat (tasharruf al-imam ‘ala al-‘abdi manuthun bi al-mashlahah).


Dalam artian, pemimpin negeri pada saat ini tidak mengindahkan kepentingan rakyat. Coba ditengok kebijakan pemerintah tentang kenaikan BBM, penanganan korban lumpur Lapindo.


Selain problem-problem tersebut, pemimpin tua juga dianggap tidak mampu memberikan qudwah atau contoh kepada kawula muda. Dalam hal ini, lihat saja, KKN terus merajalela.


Berkaca dari kenyataan yang ada, diusunglah gagasan kepemimpinan kawula muda. Sangat menarik jika ide ini digulirkan dan kemudian terealisasi. Kenapa menarik, karena pada dasarnya kepemimpinan kaum muda memiliki akar sejarah yang kuat.


Akan tetapi, sebenarnya bukan persoalan umur. Tetapi pengalaman dalam memimpin (lesdership experience). Dan alasan ini biasanya dilontarkan oleh kalangan pemimpin sepuh.

Benar juga alasan tersebut, karena semuanya kembali kepada komitmen kerakyatan yang dimiliki setiap pemimpin. Siapa saja, baik tua atau muda, mesti memiliki sense kerakyatan. Tanpa itu seorang tidak dapat disebut sebagai pemimpin. Jika ia memiliki nama besar, dia cukup disebut sebagai tokoh dan bukan pemimpin.


Jikapun seorang pemuda memimpin bangsa ini menjadi sebuah keharusan, maka selayaknya menengok sejarah kepemimpinan beberapa pemimpin klasik yang diterangkan dalam Al-Qur’an.


Dalam Al-Quran ada catatan yang dapat dijadikan ukuran. Coba perhatikan kisah Nabi Ibrahim. Di usianya yang relatif muda Nabi Ibrahim sudah menjadi ikon perlawanan terhadap kemungkaran.


Manuver Nabi Ibrahim telah dimulai semenjak ia masih muda. Ini bisa dilihat dalam Al- Quran surah al-Anbiya: 60. Fata yang tercatat dalam ayat tersebut menunjukkan Ibrahim masih muda atau kurang lebih umur16-18 tahun.


Jika ada seorang pemuda pada saat ini yang sudah mampu mengungkap kejahatan, menegakkan demokrasi serta mengkampanyekan kejujuran dan mendobrak perilaku amoral para penguasa seperti Ibrahim, kenapa tidak. Sah-sah saja.


Nabi Musa pun dapat dijadikan barometer kepemimpinan pemuda. Ia dikisahkan masuk ke kota Memphis. Di sana ia melihat terjadinya perkelahian antara seorang dari Bani Israel dan satunya dari pengikut Fir’aun.


Nabi Musa meninju seorang dari pihak Fir’aun hingga tewas. Imbas dari perbuatannya itu ia menjadi buronan Fir’aun. Untuk menyelamatkan diri ia lari mencari selamat. Dan singkat cerita Musa diterima oleh Nabi Syu’aib dan mengabdikan diri selama 8-10 tahun lamanya. Akhirnya ia dinikahkan dengan salah satu puterinya.


Nabi Musa menjadi pemimpin atas umatnya di saat usianya 25 tahun dengan segala macam pengalaman dan tantangan hidup yang dihadapi. Artinya, untuk menjadi pemimpin gerakan seorang pemimpin mesti matang dalam segala hal. Dan merujuk pada pengabdian Nabi Musa kepada Nabi Syu’aib, maka seorang pemimpin mesti menempa diri dengan pengalaman hidup sekurang-kurangnya 10. Catatan sejarah ini dapat dilihat dalam Al-Qur’an surah al-Qashash: 14.


Satu lagi ibrah datang dari Nabi Yusuf. Pertumbuhan Nabi Yusuf direkam jelas oleh Al- Qur’an. Dalam surah Yusuf: 19, Yusuf digambarkan sebagai seorang ghulam (anak kecil), kira-kira 10 tahun.


Pada ayat 22 ia tumbuh menjadi dewasa (balagha asyuddahu). Pada ayat ke 23 Yusuf digambarkan sebagai seorang yang telah menghadapi problem besar. Ia digoda oleh Zulaikha pada saat ia tumbuh sebagai seorang dewasa yang telah mencapai masa pubertas yang secara biologis juga sudah matang. Buktinya ada pada ayat ke 24. Zulaikha berhasrat terhadap Yusuf dan begitu juga sebaliknya.


Apa yang terjadi selanjutnya? Yusuf berhasil menahan diri dan menolak permintaan Zulaikha dan memilih dipenjara. Konon ia mendekam dipenjara selama 9 tahun. Di dalam penjara, ada kisah tersendiri, ia menempa diri dengan berbagai persoalan di dalamnya dan menjadi seorang pemuda yang matang.

Jika ada pemuda yang di dalam dirinya karakter seperti Yusuf, kenapa tidak untuk menjadi pemimpin dalam level tertentu. Yakni, seorang pemuda yang matang serta tidak ngiler terhadap setiap godaan, harta atau wanita.


Masih dari kisah Yusuf, sekeluarnya dari penjara (usianya 24), setelah memecahkan teka-teki mimpi sang raja, ia diminta menjadi menteri bidang ekonomi dan kesejahteraan rakyat (menkokesra). Yusuf lebih memilih menjadi bendahara negara (Mesir), ia mengaku piawai dan jujur dan kapabel di bidang ini. (Yusuf: 59).


Artinya, seorang pemangku jabatan mesti membekali diri dengan pengetahuan serta berani mengatakan yang benar sebagai kebenaran dan yang salah untuk dikatakan sebagai kesalahan. Jika ada pemuda semacam ini pada saat ini, kenapa tidak.


Bukan lagi persoalan tua muda pada saat ini. Bangsa Indonesia lebih memilih seorang pemimpin yang memiliki sensitifitas kerakyatan, apakah dia seorang sepuh atau pemuda yang bersemangat.



Jumat, 18 Juli 2008

Dua Muka

by King Syahir


Rasulullah Saw pernah ditegur Allah Swt. Teguran itu terkait dengan keputusan tabanny yang diambil Rasulullah terhadap Zaid bin Haritsah. Ihwal tabanny ini adalah ketika Zaid bin Haritsah yang seorang hamba sahaya dibeli oleh Hakim bin Hizam untuk dihadiahkan kepada Khadijh. SetelahKhadijah menikah dengan Rasulullah, dihadiahkanlah Zaid ini kepada Rasulullah. Itu terjadi sebelum masa kenabian.


Padasatu saat ayah dan paman Zaid dating dan memohon kepada Nabi untuk mengembalikanZaid kepadanya. Kemudian Rasulullah memberikan kebebasan kepada Zaid untuk memilih, tetap bersama Rasulullah atau kembali ke pelukan orang tuanya? Maka Zaid memilih tetap tinggal bersama Rasulullah. Oleh sebab itulah nama Zaid dinasabkan kepada Muhammad Saw.


Namun, Allah tidak mengizinkan keadaan itu berlangsung lama. Allah menurunkan ayat yang melarang adopsi serta membatalkan prakteknya. Hal ini sebagaimana yang difirmankan Allah dalam QS. Al-Ahzab (33): 4.


Artinya kira-kira begini, Allah tiada menjadikan bagi seseorang dua hati dalam rongganya. Dan Dia tidak menjadikan isteri-isteri kamu yang kamu zhihar itu sebagai ibu-ibu kamu, dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu menjadi anakmu. Itu hanyalah perkataanmu dengan mulutmu saja. Dan Allah mengatakan kebenaran dan Dia menunjukkan jalan (yang benar)”.


Sebenarnya, ayat tersebut tidak hanya menyinggung tentang adopsi saja. Allah juga menyinggung yang sering dilakukan orang-orang Arab dan dikategorikan sebagai kebiasaan yang buruk. Hal-hal tersebut adalah kebiasaan orang Arab Jahiliyah yaitu melakukan dhihar terhadap istrinya.


Bagaimana praktik dhihar itu? "Anti `alay ya kazahri ummi" (punggungmu atasku seperti punggung ibuku). Dengan mengucapkan kalimat seperti itu maka haramlah ia mencampuri istrinya. Inilah dhihar dalam gambaran secara sederhana.


Satu persoalan lagi yang diungkap dalam ayat ini adalah mengenai “qalbaini”. Apa yang dimaksud dengan qalbaini. Dari sisi bahasa qalbaini berasal dari kata qalb yang berarti hati. Qalbaini sama dengan dua hati.


Turunnya ayat ini setidaknya merupakan sindiran dan sanggahan Allah terhadap orang-orang kafir yang menyatakan bahwa mereka memiliki dua hati. Dan masing-masing dua hati tersebut memiliki kesadaran yang lebih dibanding yang dimiliki Nabi Muhammad. Dua hati yang dimaksud adalah hati yang iman dan hari yang kafir.


Dalam kasus terakhir ini, penulis bermaksud untuk meng-qiyaskan dengan kebiasan orang-orang munafik. Kaum kafir era jahuliyah yang mengklaim dirinya memiliki dua hati sama halnya dengan para munafikin. Siapakah mereka yang dianggap sebagai munafik yakni orang-orang yang tidak pernah konsisten dalam setiap ucapannya (muhadatsah), janji (wa’d) dan komitmennya (amanat). Orang kafir yang mengklaim memiliki dua hati menganggap dirinya bisa sewaktu-waktu beriman dan pada waktu lain kufr. Sedangkan orang munafik selalu merubah wajahnya sewaktu-waktu dengan ucapan, tindakan dan komitmen yang berbeda.


Meskipun memiliki tiga ayat (tanda), seperti yang disabdakan Nabi Saw, biasanya orang munafik disebut juga dengan orang yang bermuka dua. Prakteknya, jika berbicara dihadapan seseorang tentang satu hal maka hal itu akan diungkapkan dengan berbeda di hadapan orang yang berbeda pula. Semua itu dinyatakan dengan tujuan dan maksud tertentu.


Pernah menjumpai orang semacam ini?

Minggu, 13 Juli 2008

Persijap Kalahkan Persik 2-0

Jepara (ANTARA News) - Stadion Gelora Bumi Kartini (GBK) Jepara, Jateng, yang baru saja dibangun menjadi saksi kemenangan perdana Persijap dalam kompetisi Indonesia Super League (ISL) 2008 dengan menundukkan Persik Kediri 2-0, Minggu.

Persik yang bertabur para pemain berkualitas tidak membuat semangat para pemain Persijap menjadi kendor, sebaliknya mereka malah menampilkan permainan yang solid.

Sejak awal pertandingan, kedua tim langsung menggebrak masing-masing pertahanan lawan.

Petaka bagi tim tamu justru muncul pada menit ketujuh dengan Evaldo Silva de Assis berhasil membobol gawang Persik yang dijaga Markus Horison lewat tendangan bebas dari daerah pertahanan Persik.

Markus tidak berkutik karena tendangan Evaldo di luar dugaan begitu keras melewati bawah kaki para pemain Persik, yang terlanjut mengantisipasi tendangan bebas itu dengan melompat.

Keunggulan 1-0 tersebut membuat semangat juang Evaldo dkk meledak-ledak, hingga sempat membuat barisan pertahanan Pesijap lengah.

Pemain depan Persik, Budi Sudarsono sempat merepotkan barisan pertahanan Persijap, namun berkat permainan taktis Evaldo dibantu Sofyan Morhan, pergerakan Budi dapat dimentahkan.

Pada menit ke-60, Persijap kembali membuat penonton di Stadion GBK yang berkapasitas 20.000 orang bersorak setelah tendangan keras Arnaldo Vilalba membuahkan gol dan mengubah kedudukan menjadi 2-0.

Kedua kesebelasan dalam pertandingan itu sebenarnya menampilkan permainan menarik, namun perubahan atmosfir pertandingan menjadi keras memaksa wasit Anang Suryana mengusir pemain Persik Hamka Hamzah pada menit ke-50, setelah mendapat kartu kuning keduanya karena melakukan pelanggaran pada Frances.

Wasit juga mengeluarkan tiga buah kartu kuning kepada dua pemain Persijap dan satu Persik.(*)

Jumat, 11 Juli 2008

Uhud, Bom Waktu dan Sikap Kita

by King Syahir

Sejarah mencatat sebuah peristiwa penting dalam perjalanan Islam dan pemeluknya. Peristiwa akbar itu adalah kekalahan umat Islam dalam perang uhud. Perang Uhud merupakan salah satu dari 74 perang yang pernah dilakukan umat Islam terhadap para musyrikin. Dari 74 kali perang itu, umat Islam tidak pernah mengerahkan tentara sebanyak kaum musyrik. Termasuk dalam perang Uhud ini.


Meski kalah dalam jumlah tentara umat Islam mampumenguasai medan perang. Kaum musyrikin dibuat kelabakan dan kocar-kacir strateginya. Namun, kondisi itu tidak berlangsung lama. Arus kekuatan berubah berbalik arah kepada kaum musyrik setelah umat Islam terjebak pada kenikmatan sesaat.


Ya, kaum muslimin ketika itu melihat harta benda yang melimpah ruah ditinggalkan musuh setelah didepak mundur oleh mujahidin. Harta yang ditinggalkan di lerenag bukit uhud itu tak disia-siakan kaum mujahidin. Mereka berhamburan turun bukit untuk mengamankan harta musuh.


Melihat situasi ini kaum musyrikin berbalik arah. Mereka naik kebukit dan mengepung kaum muslimin. Tak berdaya. Begitulah gambaran kaum muslim ketika itu. 23 orang tentara musuh tewas dan 70 orang mujahidin gugur dalam perang itu. Nabi sendiri, mukanya penuh dengan darah dan giginya patah. Inilah kekalahan yang paling disesali oleh Nabi Saw.


Kejayaan umat Islam pada pertempuran di medan perang sebelumnya seakan-akan punah seketika itu. Mereka berada dalam kondisi mental yang terpuruk. Namun, karena keimanan yang kukuh mereka segera bangkit dan mampu merenovasi kekautan secara internal dan membangun kembali kekuatan materi dan immateri.


Perang Uhud tidak akan terulang kembali. Namun, kekalahan semacam sangat mungkin terulang lagi, kapan saja, dan di mana saja serta disebabkan oleh sebab yang sama. Ketamakan terhadap harta benda telah membuat umat Islam lupa daratan dan akhirnya terperosok dalam kekalahan.


Mereka lupa, bahwa perang belum selesai. Lawan boleh saja mundur, tetapi mereka belum hancur. Lawan boleh terluka, namun semangat untuk terus bertempur belum padam. Lawan boleh lengah karena serangan anak panah. Tetapi mereka tidak pongah karena kehilangan dunia.


Jika ditarik dalam kondisi sekarang ini, banyak sekali aspek yangmesti dijadikan pelajaran. Misalnya, kita adalah insan pekerja. Dalam setiap saat kita menjadi manusia yang memiliki kewajiban atau tugas melaksanakan roda kehidupan. Apakah itu roda keluarga, perusahaan, organisasi atau, bahkan yang lebih besar lagi, roda pemerintahan.


Kita layak untuk menikmati kesuksesan. Kita juga diperbolehkan menguasai hak kepemilikan. Begitu pula kita sangat dianjurkan untuk mendistribusikan hasil dari kerja keras kita.


Tapi, apakah semua yang kita lakukan sebagai buah dari eksplorasi usaha yang didasari oleh identitas kita sebagai hamba Allah. Jika itu menjadi dasar dari setiap usaha kita, pasti semuanya akan membawa berkah di kemudian hari.


Berkah dapat dirasakan ketika diri kita merasakan sebuah ketenangan batin yang teramat. Memuaskan hati dan pikiran. Adapun jika, eksplorasi itu berdasarkan kesombongan belakan maka pada saat tertentu maka bom waktu akan meledak pada saat yang telah ditentukan meletusnya oleh Sang Penentu kehidupan.


Pelaku lembaga pemerintahan, perusahaan atau keluarga akan menjadi korban dari ledakan bom waktu itu. Pelaku dan orang-orang sekelilingnya akan menjadi korban. Orang-orang sekelilingnya akan bertepuk tangan karena kita adalah pesaing mereka.


Orang di luar kita adalah pemain yang sama, pelaku yang sama. Mereka akan mengambil keuntungan dari keterpurukan kita yang selama ini angkuh, tak acuh, memperlakukan anggota keluarga lain, memperlakukan anggota lain layaknya seorang budak tawanan.


Itu perilaku yang merugikan orang lain. Ada juga perilaku yang dapat mengantarkan kita pada sebuah kekalahan yang hanya merigikan diri sendiri. Misalnya, merubah pola hidup dari yang sederhana ke arah yang lebih elitis dan hedonistis. Sebuah sikap yang kurang populis dan humanistis.


Bukan berarti humanistik dan populis merupakan lawan dari kesederhanaan dan elitis. Akan tetapi keduana telah menjauhkan dari sikap yang dicintai orang kebanyakan. Terutama orang-orang yang ‘merasa’ berada di bawah kita.


Mari kita semua berkaca. Pada siapa saja dan apa saja. Pada dasarnya kita melangkah ke arah yang lebih baik dengan dibarengi dengan perilaku yang tidak menindas oranglain. Bukan melangkah menuju arah kegelapan dengan membawa benih kemunduran.



Selasa, 24 Juni 2008

TAK SEKEDAR BIOGRAFI IDHAM CHALID


by King Syahir


Judul: Napak Tilas Pengabdian Idham Chalid Tanggung Jawab Politik NU Dalam Sejarah

Editor: Arief Mudatsir Mandan

Penerbit: Pustaka Indonesia Satu (PIS), 2008

Halaman: xxii+466

Harga: 100.000 (soft cover), 150.000 (hard cover)


Dalam buku yang berjudul Napak Tilas Pengabdian Idham Chalid Tanggung Jawab Politik NU Dalam Sejarah, bangsa Indonesia, khususnya warga Nahdliyyin, akan melihat sosok Idham Chalid sebagai seorang birokrat, ulama tokoh organisasi, politisi dan sekaligus pejuang. Ketokohannya layak untuk diteladani oleh semua generasi.


Ingin tahu mengenai perjalanan politik di negeri ini pasca kemerdekaan, bacalah buku ini. Atau ingin memahami kiprah Nahdlatul Ulama, saat menjadi partai politik dan sebagai ormas Islam, dalam membangun negara baca juga buku terbitan Pustaka Indonesia Satu ini. Tidak hanya itu, bagi Anda yang gemar membaca profil tokoh bacalah buku ini. Di dalamnya disajikan profil sosok istimewa di Indonesia ini, lebih khusus, di kalangan NU yakni KH. Idham Chalid.

Sosok yang digambarkan secara jeli ini tidak lain adalah tokoh yang paling lama memimpin NU. Sehingga muncul pencitraan terhadap dirinya dan NU. Ibaratnya, Idham ya NU, NU ya Idham. Citra ini muncul karena masa yang begitu lama dalam kepemimpinannya di NU yakni 28 tahun (1956-1984).

Tokoh ini memiliki andil besar dalam membangkitkan kembali NU di era 1950 hingga 1960-an. Bersama KH. Wahab Chasbullah, Idham mampu menyegarkan NU mulai dari tingkat ranting hingga pusat. Sebuah prestasi yang diraih NU pada masa kepemimpinan Idham adalah ketika mengikuti Pemilu 1955. Waktu itu, NU berhasil meraih posisi ke tiga. Sebuah catatan yang luar biasa.

Jika NU tidak dapat dipisahkan dari Idham ketika itu, begitu halnya dengan Indonesia. Perjalanan bangsa negara Indonesia tidak dapat dipisahkan dari peran penting seorang Idham Chalid. Sebelum 1965 NU menempati tiga besar partai politik, namun setelah memasuki masa-masa Orde Baru, NU justru meraih kemengan yang signifikan. Partai ini mampu menduduki peringkat kedua setelah Golkar. Ini tidak lepas dari peran dan kepemimpinan tokoh kelahiran Satui, 27 Agustus 1921 ini.

Seiring kesuksesan NU, karir politik Idham juga meroket. Ia tercatat pernah duduk di kursi Wakil Perdana Menteri II dalam Kabinet Ali Sastroamidjoyo (1956-1957). Dan pada saat Presiden Soekarno jatuh pada 1966, sosok yang dianggap dekat dengan Bung Karno ini tetap bertahan. Bahkan, oleh penguasa Orde Baru ia dipercaya menjadi Menteri Kesejahteraan Rakyat (1967-1970), Menteri Sosial (1970-1971) dan setelah itu terpilih menjadi Ketua DPR/MPR RI (1971-1977) dan ketua DPA (1977-1983). (hal. Ix)

Dalam buku yang berjudul Napak Tilas Pengabdian Idham Chalid Tanggung Jawab Politik NU Dalam Sejarah, bangsa Indonesia, khususnya warga Nahdliyyin, akan melihat sosok Idham Chalid sebagai seorang birokrat, ulama tokoh organisasi, politisi dan sekaligus pejuang. Ketokohannya layak untuk diteladani oleh semua generasi.

Buku setebal 466 halaman ini selain mengangkat ketokohan Idham Chalid juga memiliki muatan sejarah yang sangat kuat. Dengan membaca buku ini akan ditemukan banyak hal tentang wawasan politik, ke-NU-an dan tentunya, ketangguhan dan kecerdikan seorang Idham Chalid.