Minggu, 13 Juli 2008

Persijap Kalahkan Persik 2-0

Jepara (ANTARA News) - Stadion Gelora Bumi Kartini (GBK) Jepara, Jateng, yang baru saja dibangun menjadi saksi kemenangan perdana Persijap dalam kompetisi Indonesia Super League (ISL) 2008 dengan menundukkan Persik Kediri 2-0, Minggu.

Persik yang bertabur para pemain berkualitas tidak membuat semangat para pemain Persijap menjadi kendor, sebaliknya mereka malah menampilkan permainan yang solid.

Sejak awal pertandingan, kedua tim langsung menggebrak masing-masing pertahanan lawan.

Petaka bagi tim tamu justru muncul pada menit ketujuh dengan Evaldo Silva de Assis berhasil membobol gawang Persik yang dijaga Markus Horison lewat tendangan bebas dari daerah pertahanan Persik.

Markus tidak berkutik karena tendangan Evaldo di luar dugaan begitu keras melewati bawah kaki para pemain Persik, yang terlanjut mengantisipasi tendangan bebas itu dengan melompat.

Keunggulan 1-0 tersebut membuat semangat juang Evaldo dkk meledak-ledak, hingga sempat membuat barisan pertahanan Pesijap lengah.

Pemain depan Persik, Budi Sudarsono sempat merepotkan barisan pertahanan Persijap, namun berkat permainan taktis Evaldo dibantu Sofyan Morhan, pergerakan Budi dapat dimentahkan.

Pada menit ke-60, Persijap kembali membuat penonton di Stadion GBK yang berkapasitas 20.000 orang bersorak setelah tendangan keras Arnaldo Vilalba membuahkan gol dan mengubah kedudukan menjadi 2-0.

Kedua kesebelasan dalam pertandingan itu sebenarnya menampilkan permainan menarik, namun perubahan atmosfir pertandingan menjadi keras memaksa wasit Anang Suryana mengusir pemain Persik Hamka Hamzah pada menit ke-50, setelah mendapat kartu kuning keduanya karena melakukan pelanggaran pada Frances.

Wasit juga mengeluarkan tiga buah kartu kuning kepada dua pemain Persijap dan satu Persik.(*)

Jumat, 11 Juli 2008

Uhud, Bom Waktu dan Sikap Kita

by King Syahir

Sejarah mencatat sebuah peristiwa penting dalam perjalanan Islam dan pemeluknya. Peristiwa akbar itu adalah kekalahan umat Islam dalam perang uhud. Perang Uhud merupakan salah satu dari 74 perang yang pernah dilakukan umat Islam terhadap para musyrikin. Dari 74 kali perang itu, umat Islam tidak pernah mengerahkan tentara sebanyak kaum musyrik. Termasuk dalam perang Uhud ini.


Meski kalah dalam jumlah tentara umat Islam mampumenguasai medan perang. Kaum musyrikin dibuat kelabakan dan kocar-kacir strateginya. Namun, kondisi itu tidak berlangsung lama. Arus kekuatan berubah berbalik arah kepada kaum musyrik setelah umat Islam terjebak pada kenikmatan sesaat.


Ya, kaum muslimin ketika itu melihat harta benda yang melimpah ruah ditinggalkan musuh setelah didepak mundur oleh mujahidin. Harta yang ditinggalkan di lerenag bukit uhud itu tak disia-siakan kaum mujahidin. Mereka berhamburan turun bukit untuk mengamankan harta musuh.


Melihat situasi ini kaum musyrikin berbalik arah. Mereka naik kebukit dan mengepung kaum muslimin. Tak berdaya. Begitulah gambaran kaum muslim ketika itu. 23 orang tentara musuh tewas dan 70 orang mujahidin gugur dalam perang itu. Nabi sendiri, mukanya penuh dengan darah dan giginya patah. Inilah kekalahan yang paling disesali oleh Nabi Saw.


Kejayaan umat Islam pada pertempuran di medan perang sebelumnya seakan-akan punah seketika itu. Mereka berada dalam kondisi mental yang terpuruk. Namun, karena keimanan yang kukuh mereka segera bangkit dan mampu merenovasi kekautan secara internal dan membangun kembali kekuatan materi dan immateri.


Perang Uhud tidak akan terulang kembali. Namun, kekalahan semacam sangat mungkin terulang lagi, kapan saja, dan di mana saja serta disebabkan oleh sebab yang sama. Ketamakan terhadap harta benda telah membuat umat Islam lupa daratan dan akhirnya terperosok dalam kekalahan.


Mereka lupa, bahwa perang belum selesai. Lawan boleh saja mundur, tetapi mereka belum hancur. Lawan boleh terluka, namun semangat untuk terus bertempur belum padam. Lawan boleh lengah karena serangan anak panah. Tetapi mereka tidak pongah karena kehilangan dunia.


Jika ditarik dalam kondisi sekarang ini, banyak sekali aspek yangmesti dijadikan pelajaran. Misalnya, kita adalah insan pekerja. Dalam setiap saat kita menjadi manusia yang memiliki kewajiban atau tugas melaksanakan roda kehidupan. Apakah itu roda keluarga, perusahaan, organisasi atau, bahkan yang lebih besar lagi, roda pemerintahan.


Kita layak untuk menikmati kesuksesan. Kita juga diperbolehkan menguasai hak kepemilikan. Begitu pula kita sangat dianjurkan untuk mendistribusikan hasil dari kerja keras kita.


Tapi, apakah semua yang kita lakukan sebagai buah dari eksplorasi usaha yang didasari oleh identitas kita sebagai hamba Allah. Jika itu menjadi dasar dari setiap usaha kita, pasti semuanya akan membawa berkah di kemudian hari.


Berkah dapat dirasakan ketika diri kita merasakan sebuah ketenangan batin yang teramat. Memuaskan hati dan pikiran. Adapun jika, eksplorasi itu berdasarkan kesombongan belakan maka pada saat tertentu maka bom waktu akan meledak pada saat yang telah ditentukan meletusnya oleh Sang Penentu kehidupan.


Pelaku lembaga pemerintahan, perusahaan atau keluarga akan menjadi korban dari ledakan bom waktu itu. Pelaku dan orang-orang sekelilingnya akan menjadi korban. Orang-orang sekelilingnya akan bertepuk tangan karena kita adalah pesaing mereka.


Orang di luar kita adalah pemain yang sama, pelaku yang sama. Mereka akan mengambil keuntungan dari keterpurukan kita yang selama ini angkuh, tak acuh, memperlakukan anggota keluarga lain, memperlakukan anggota lain layaknya seorang budak tawanan.


Itu perilaku yang merugikan orang lain. Ada juga perilaku yang dapat mengantarkan kita pada sebuah kekalahan yang hanya merigikan diri sendiri. Misalnya, merubah pola hidup dari yang sederhana ke arah yang lebih elitis dan hedonistis. Sebuah sikap yang kurang populis dan humanistis.


Bukan berarti humanistik dan populis merupakan lawan dari kesederhanaan dan elitis. Akan tetapi keduana telah menjauhkan dari sikap yang dicintai orang kebanyakan. Terutama orang-orang yang ‘merasa’ berada di bawah kita.


Mari kita semua berkaca. Pada siapa saja dan apa saja. Pada dasarnya kita melangkah ke arah yang lebih baik dengan dibarengi dengan perilaku yang tidak menindas oranglain. Bukan melangkah menuju arah kegelapan dengan membawa benih kemunduran.



Selasa, 24 Juni 2008

TAK SEKEDAR BIOGRAFI IDHAM CHALID


by King Syahir


Judul: Napak Tilas Pengabdian Idham Chalid Tanggung Jawab Politik NU Dalam Sejarah

Editor: Arief Mudatsir Mandan

Penerbit: Pustaka Indonesia Satu (PIS), 2008

Halaman: xxii+466

Harga: 100.000 (soft cover), 150.000 (hard cover)


Dalam buku yang berjudul Napak Tilas Pengabdian Idham Chalid Tanggung Jawab Politik NU Dalam Sejarah, bangsa Indonesia, khususnya warga Nahdliyyin, akan melihat sosok Idham Chalid sebagai seorang birokrat, ulama tokoh organisasi, politisi dan sekaligus pejuang. Ketokohannya layak untuk diteladani oleh semua generasi.


Ingin tahu mengenai perjalanan politik di negeri ini pasca kemerdekaan, bacalah buku ini. Atau ingin memahami kiprah Nahdlatul Ulama, saat menjadi partai politik dan sebagai ormas Islam, dalam membangun negara baca juga buku terbitan Pustaka Indonesia Satu ini. Tidak hanya itu, bagi Anda yang gemar membaca profil tokoh bacalah buku ini. Di dalamnya disajikan profil sosok istimewa di Indonesia ini, lebih khusus, di kalangan NU yakni KH. Idham Chalid.

Sosok yang digambarkan secara jeli ini tidak lain adalah tokoh yang paling lama memimpin NU. Sehingga muncul pencitraan terhadap dirinya dan NU. Ibaratnya, Idham ya NU, NU ya Idham. Citra ini muncul karena masa yang begitu lama dalam kepemimpinannya di NU yakni 28 tahun (1956-1984).

Tokoh ini memiliki andil besar dalam membangkitkan kembali NU di era 1950 hingga 1960-an. Bersama KH. Wahab Chasbullah, Idham mampu menyegarkan NU mulai dari tingkat ranting hingga pusat. Sebuah prestasi yang diraih NU pada masa kepemimpinan Idham adalah ketika mengikuti Pemilu 1955. Waktu itu, NU berhasil meraih posisi ke tiga. Sebuah catatan yang luar biasa.

Jika NU tidak dapat dipisahkan dari Idham ketika itu, begitu halnya dengan Indonesia. Perjalanan bangsa negara Indonesia tidak dapat dipisahkan dari peran penting seorang Idham Chalid. Sebelum 1965 NU menempati tiga besar partai politik, namun setelah memasuki masa-masa Orde Baru, NU justru meraih kemengan yang signifikan. Partai ini mampu menduduki peringkat kedua setelah Golkar. Ini tidak lepas dari peran dan kepemimpinan tokoh kelahiran Satui, 27 Agustus 1921 ini.

Seiring kesuksesan NU, karir politik Idham juga meroket. Ia tercatat pernah duduk di kursi Wakil Perdana Menteri II dalam Kabinet Ali Sastroamidjoyo (1956-1957). Dan pada saat Presiden Soekarno jatuh pada 1966, sosok yang dianggap dekat dengan Bung Karno ini tetap bertahan. Bahkan, oleh penguasa Orde Baru ia dipercaya menjadi Menteri Kesejahteraan Rakyat (1967-1970), Menteri Sosial (1970-1971) dan setelah itu terpilih menjadi Ketua DPR/MPR RI (1971-1977) dan ketua DPA (1977-1983). (hal. Ix)

Dalam buku yang berjudul Napak Tilas Pengabdian Idham Chalid Tanggung Jawab Politik NU Dalam Sejarah, bangsa Indonesia, khususnya warga Nahdliyyin, akan melihat sosok Idham Chalid sebagai seorang birokrat, ulama tokoh organisasi, politisi dan sekaligus pejuang. Ketokohannya layak untuk diteladani oleh semua generasi.

Buku setebal 466 halaman ini selain mengangkat ketokohan Idham Chalid juga memiliki muatan sejarah yang sangat kuat. Dengan membaca buku ini akan ditemukan banyak hal tentang wawasan politik, ke-NU-an dan tentunya, ketangguhan dan kecerdikan seorang Idham Chalid.

Nampang Doang


Sayyidina Umar ra. Dia sosok pemimpin yang memiliki catatan kepribadian yang luar biasa dan layak ditiru. Pada satu ketika ia datang ke sebuah rumah yang dihuni seorang janda dengan beberapa anak. Keluarga ini dalam kondisi kelaparan yang sangat. Mendengar itu, ia membawakan bekal makanan untuk mereka yang dipanggulnya sendiri.

Mulia, bukan? Adakah pemimpin seperti mereka sekarang ini. Boro-boro datang ke ke sebuah keluarga dengan membawa sembako yang dipanggulnya sendiri. Menyapa rakyatnya ketika bertemu di jalana saja tidak.

Sekarang ini yang lebih ngetrend adalah pemimpin cukup memasang gambar berukuran besar di perempatan jalan atau di pusat-pusat ramai manusia. Bagaimana memikat hati rakyat jika hanya gambar yang terpampang. Tidak adakah cara yang lebih humanis dan populis selain Nampang Doang?



Rabu, 04 Juni 2008

“Habib” Rizieq, Berhentilah Merusak Citra Islam


By King Syahir


Saya pernah mengikuti ceramah KH. Musthofa Bisri atau yang biasa dipanggil Gus Mus. Pada satu kesempatan Gus Mus diundang berceramah di salah satu pesantren di Ciputat. Dan sebagaimana biasanya, Gus Mus berceramah dengan gayanya yang khas. Gus Mus bukan orator. Ia bukan seperti Bung Karno yang piawai mengobarkan semangat nasionalisme rakyat yang dipimpinnya.

Gus Mus adalah sosok penutur kata bijak yang mudah dicerna semua kalangan. Beliau mampu menghipnotis pendengarnya dengan kalimat-kalimat yang indah tapi tidak asing di telinga. Beliau adalah budayawan sekaligus kyai yang mengerti apa yang disampaikan dan kepada siapa menyampaikannya.

Meskipun tidak dengan suara lantang setiap pendengar ceramahnya seakan-akan disuntik dengan kata-kata yang tajam. Tidak sedikit audiens yang setia mendengarkan taushiyahnya dari pangkal hingga ujung. Dan setelah itu audiens segera meraba diri atau melihat sekeliling dan mencocokkannya dengan isi petuahnya itu.

Dalam kesempatan tatap muka, jarak jauh, dengan Gus Mus pada pengajian itu saya mendengarkan dengan jelas apa yang diucapkannya. Intinya, Gus Mus menyayangkan tindakan orang-orang yang memakai busana Rasulullah, memelihara jenggot sebagaimana Rasulullah dan menasihati orang lain dengan sunnah Rasulullah, tetapi tindakannya tidak mencerminkan tindakan Rasulullah.

Sungguh disayangkan. Mereka mengaku umat Rasulullah. Bahkan mereka juga marah ketika ada manusia di dunia ini yang menyatakan diri sebagai nabi atau rasul setelah baginda Rasulullah. Sungguh disayangkan, perilaku mereka. Katanya cinta Rasulullah tetapi tidak mencintainya melalui tindakan.

Malah sebaliknya, mereka merusak citra Rasulullah sebagai manusia panutan. Orang yang tidak tahu Islam mengira Nabi junjungan umat Islam telah mencontohkan pengikutnya untuk berbuat kekerasan. Dengan demikian, saya tidak menyalahkan para orientalis yang mengklaim Islam sebagai agama yang identik dengan kekerasan. Tidak salah jika ada pihak yang mengira Islam sebagai sarang para pembuat onar dan teroris. Sekali lagi, sungguh disayangkan.

Tulisan ini merupakan klimaks dari pengamatan saya terhadap “gerombolan” Front Pembela Islam (FPI). Saya lebih senang menyebut kelompok ini dengan “gerombolan” dari pada organisasi. Ini lebih karena tindakan anarkisme yang mereka terapakkan dalam setiap aksinya. Organisasi lebih identik dengan kelompok yang memiliki tujuan baik dan membangun bangsa. Sedangkan FPI sebaliknya. Silahkan pendapat saya ini diperdebatkan. Karena cuma sekedar istilah saja.

Klimaks? Ya. Selama ini saya cuek dengan anarkisme yang ditanamkan “Habib” Rizieq kepada anak buahnya yang tidak lain adalah para preman yang memakai busana Rasulullah dan mengklaim sebagai pengikut sunnahnya. Saya memberi tanda kutip pada nama “Habib”. Karena, pada dasarnya, seorang keturunan Nabi tidak mungkin menyuruh pengikutnya untuk bertindak berseberangan dengan Nabi. Artinya, “habib” bukanlah “Habib”.

Klimaks? Ya. Selama ini saya berharap FPI dapat memperbaiki citranya. Dari gerombolan pengacau ketertiban umum menjadi gerakan dakwah yang santun. Saya berharap FPI menjadi front yang benar-benar membela Islam. Bukan membunuh Islam itu sendiri. Saya berharap FPI sesuai dengan namanya, Front Pembela Islam bukan Front Pengacau/Perusak/Penghancur/Pembunuh Islam.

Aksi amuk yang dilakukan oleh orang-orang FPI terhadap para demonstran dari Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKK-BB) di Silang Monas, Minggu, (1/6/2008), adalah aksi yang tidak simpatik dan anarkis. Mereka rela melukai fisik dan perasaan bangsa sendiri. Tidak hanya itu, mereka juga melukai Allah, Rasul, Islam dan umat Islam di seluruh dunia.

Kepada “Habib” Rizieq, Anda adalah kepala gembong Front Perusak Islam. Hentikan preman-preman binaan Anda. Hentikan aksi-aksi jahat mereka. Karena keberadaan FPI membuat wajah Islam berubah menjadi seram, menakutkan dan mengerikan.

Khusus terhadap Anda, berhentilah memprovokasi pengikut Anda. Anda sudah kaya. Sudah banyak upeti yang Anda terima dari orang-orang yang membutuhkan jasa Anda. Lebih baik, gunakan upeti Anda untuk dakwah yang lebih santun (hasanah). Atau kalau perlu, sedekahkan upeti Anda untuk para kaum fakir miskin yang tidak menerima BLT (Bantuan Langsung Tunai). Dengan demikian Anda akan dapat dikenang dan dapat disejajarkan dengan Si Pitung.

Rabu, 23 April 2008

Berawal dari Hari Raya Qurban



Aku terlambat datang menghadiri perayaan Hari Raya Qurban. Acara ini diselenggarakan Pergerakan mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Kebayoran Lama. Di organisasi inilah aku menempa diri selama kuliah. Aku senang pernah dikader di PMII. Karena aku dapatkan banyak hal yang tidak aku dapatkan di kampus (PTIQ).

Tepat pada acara Qurban itu (aku lupa tanggalnya) aku disapa seorang mahasiswi dari IIQ. Dia adalah anggota PMII juga. “Ka Syahir, kan?” begitu tanyanya kepadaku. “Oh, Inne, ya?” aku kembali bertanya kepadanya. Dari situ aku mulai berpikir, “selama ini aku tidak pernah mengenalnya, bersama atau bahkan berbincang-bincang dengannya’. Namun, aku, Ge Er, sebagai senior aku percaya bahwa adik-adik di PMII mengenal kakak-kakaknya. Termasuk Inne, ia mengenalku meski tidak pernah saling menyapa. Dan sapaannya pada waktu itu merupakan yang pertama kalinya dan itu sangat membekas.

Kenapa, aku terus teringat dengan Inne. Sebagai orang yang penasaran, aku melakukan investigasi kecil-kecilan. Kepada para temannya aku minta identitasnya dan yang trerpenting aku cari nomor handphonnya (HP). Kutemukanlah hp-nya. Dan kukirim sms kepadanya dengan sedikit pujian dan teka-teki. Tapi, sebelumnya aku juga mengenalkan diri.

Hari terus berjalan menyusul minggu dan menghampiri bulan. Aku ungkapkan perasaanku pada gadis keturunan Sunda ini. Tetapi, keputusan itu tetap melalui proses yang lumayan panjang. Dalam lamanya proses itu, aku menemukan ada signal (dalam istilah poncelnya) atau getaran asmara (dalam istilah orang-orang yang jatuh cinta).

Salah satu contoh getaran itu ada atau signal itu kuat adalah ketika ia menawarikua untuk menemaninya datang ke Perpustakaan Iman Jama. Perpustakaan inilah yang menjadi rujukan setiap mahasiswa dari berbagai kampus untuk mencari referensi. Di antaranya adalah mahasiswa PTIQ, IIQ dan UIN. Termasuk aku yang, dapat dibilang sering, datang ke perpustakaan yang terletak tidak jauh dari Terminal Lebak Bulus.

Ketika ia meminta untuk ditemani datang ke Iman Jama, aku tidak menolaknya. Bahkan, permintaan itu adalah yang aku tunggu-tunggu. Ini adalah dating pertama kita berdua. Dan, alhamdulillah, sukses. Serta menjadi kencan pertama sebelum kita mengikat tali cinta yang pada waktu itu belum tertali di antara kita.

Dalam kesempatan berikutnya, kita janjian di tempat yang sama. Dalam pertemuan yang kedua inilah berlanjut ke tempat lain, tepatnya di Taman Situ Gintung. Nah, di sinilah aku utarakan isi hatiku. Layaknya seorang perempuan, ia tidak serta merta menerimaku. Ada beberapa hal yang membuatnya menggantungkan jawabannya. Di antaranya, dalam hatinya terdapat beberapa orang yang menginginkannya untuk menjadi dambaan hati. Selain itu, ia ingin menunjukkan kepada dirinya bahwa aku benar-benar mencintainya.

Oleh sebab itu, dalam beberapa waktu berikutnya, ia berujar bahwa benih cintanya kepadaku sudah mulai tumbuh, namun bila diprosentase Cuma 50 persen. Ya, selebihnya ada di di orang-orang yang mendamabkannya.

bersambung...........

Dua Garis Merah Muda


Setiap tanggal sebelas atau dua belas, biasanya istriku (kini sudah aku panggil Bunda untuk buah hatiku nanti) haid. Tiap tanggal itu datang aku selalu sedikit resah. Biasanya, bunda kasih kabar ke aku. “Sayang, hari ini aku mulai haid,” begitu katanya setiap kali datang bulan.

“Tak usah resah. Kita telah berusaha. Allah Swt. yang menentukan semuanya,” begitu kataku membesarkan hatinya. Selain dengan mengungkapkan motovasi secara langsung, aku memberinya pengertian via sms. “Segala yang datang kepada kita adalah amanah dari-Nya. Semuanya datang pada waktunya. Mungkin, kita dalam pandangan Allah belum siap menrima amanat itu,” begitulah salah satu sms yang pernah aku kirim keistriku dari tempat kerja.

Memang, setelah menikah pada 1 September 2007 kita berdua tidak ingin menunda kehamilan. Selain kita berdua ada keluarga yang juga nyupport untuk segera punya momongan. Dan, di pihak kita sendiri mempertimbangkan umur. Aku, pada waktu menikah berusia 29 dan bunda 22. Tujuannya, biar, pada satu saat nanti anak kita sudah beranjak dewasa kita berdua masih sehat dan bugar. Dengan demikian, masih kuat mencari nafkah dan membiayai mereka (anak-anak) kami sekolah.

Oya, ke soal haidnya bunda tadi. Selama berumah tangga, hingga saat tulisan ini aku ketik, sudah berumur 8 bulan, terus saja mengalami haid. Artinya, kita berdua belum diberi tanda-tanda kehamilan. Selam itu, kita selalu berharap dan terus menanti. Sepanjang penantian kita tidak henti-hentinya ikhtiar dan berdoa. Doanya pun macam-macam, caranya juga berda-beda.

Biasanya,kita berdoa seusai shalat lima waktu yang sempat kita dirikan secara berjamaah. Misalnya, magrib, isya dan subuh. Terkadang juga tahajud, jika tubuh ini tidak capek banget. Pada hari sabtu atau minggu juga kita sempatkan jamaah. Karena aku tidak kerja. bersambung...........